Pengalaman Seks Masa Kecil

Unknown | Kamis, Juni 06, 2013 | 3komentar
Saya ingin menceritakan suatu pengalaman seks yang pertama kali saya alami pada masa remaja. Saat itu saya berumur 14 tahun. Saya sering sakit-sakitan kala itu. Sampai-sampai suatu hari saya harus dirawat di rumah sakit A, di kota Surabaya. Sakit yang saya derita adalah karena terjadinya pembengkakan di saluran jantung saya. Telapak kaki saya bengkak-bengkak dan kalau saya lari lebih dari satu kilometer, saya langsung ngos-ngosan. Ibu saya kemudian memutuskan saya untuk meminta perawatan dokter S, ahli jantung terkenal saat itu. Si dokter malam itu juga meminta saya dirawat inap di rumah sakit. Nah, dari rumah sakit itulah, saya mengalami pengalaman seks terhebat yang akan saya kenang seumur hidup saya.
Pengalaman Seks Masa Kecil

Karena minum obat yang diberikan dokter, malam pertama saya menginap di rumah sakit, saya tidak bisa tidur. Saya maunya kencing terus. Sebuah botol besar telah disiapkan untuk menampung air urine saya. Otomatis, penis saya harus dimasukkan ke botol itu. Oleh dokter, saya tidak diperbolehkan untuk turun dari tempat tidur. Jadi sambil tiduran, saya tinggal memasukkan penis ke dalam botol yang sudah ada di samping ranjang. Ada satu perawat yang rupanya begitu telaten menjaga dan merawat saya malam itu. Seharusnya ia tidak boleh memperhatikan saya membuang urine di botol. Tetapi tatkala saya membuka piyama dan celana dalam saya, dan mengarahkan penis ke mulut botol, eh si perawat yang belakangan kuketahui bernama Wiwin D**** (edited) malah membantu memegang penis saya. Dengan pelan dan lembut tangan kirinya memegang penis kecil saya yang masih kecil, sedangkan tangan kanannya ikut memegang botol itu. Setelah urine saya keluar, ia membersihkan penis saya dengan tissue. Sambil terus membersihkannya, ia memperhatikanku dengan senyuman aneh.

"Dik.. kamu tahu bendamu ini bisa membuat kamu melayang-layang?" tanyanya tiba-tiba.
"Maksud Mbak?" tanyaku pura-pura tidak mengerti. Aku sudah tahu apa maksudnya. Wong, aku sudah pernah nonton video BF seminggu yang lalu.
"Iya.. kalo si kecil ini dipegang, dikocok-kocok oleh tangan halus seorang wanita kemudian dihisap dan dikulum olehnya, pasti deh kamu akan merasakan keenakan yang luar biasa.. lebih dari yang lain yang ada di dunia ini.." jawab Mbak Wiwin lagi.
"Masa sih, Mbak? Pengen coba nih.. bisa nggak Mbak melakukannya buat saya?" tanyaku hati-hati dengan perasaan campur baur. Berani juga nih cewek.
"Kamu benar-benar mau?" tanyanya penuh semangat.
Tanpa menunggu jawabanku lagi, ia menaruh tissue itu lalu memegang kejantananku dan pelan-pelan mulai mengocok-ngocoknya. Wah.. memang benar enak kocokannya. Pelan tapi pasti. Beberapa menit kemudian ia jongkok di samping tempat tidur. Mulutnya dibuka lalu batang kejantananku dimasukkan ke dalamnya. Mula-mula dihisapnya, dikulum lalu dijilat-jilatnya kepala kejantananku.

Untuk pertama kalinya dalam masa remajaku, aku merasakan sesuatu yang amat sangat nikmat! Entah apa namanya.. surga dunia kali ya? Tanpa disangka-sangka Mbak Wiwin memegang tangan kananku lalu menuntunnya masuk ke balik seragamnya. Ya.. itu dia!! Gunung kembarnya begitu kenyal dan besar kurasakan. Tanpa disuruh lagi aku pun meremas-remas, meraba-raba 'susu' ajaibnya itu. Sementara itu ia terus saja mengulum dan mengisap kejantananku dengan penuh nafsu.

Beberapa menit kemudian aku mulai merasa akan ada sesuatu yang akan keluar dari tubuhku yang masih lemah karena sakit. "Crot..! crot..! crot..!" Sesuatu berwarna putih kekuning-kuningan dan agak kental keluar dari batang kejantananku dan tanpa ampun lagi langsung menyemprot masuk ke mulut Mbak Wiwin. Setelah sembilan kali semprot, ia menjilati kejantananku dengan mimik muka penuh kepuasan.

"Gimana Dik..? Puas nggak?" tanyanya sambil tersenyum. Terlihat bekas cairan kental itu di mulut dan bibirnya.
"Wah nikmat ya Mbak.. Boleh dong aku minta lagi..?" jawabku penuh harap.
"Boleh dong.. tapi jangan sekarang ya.. kamu harus istirahat dulu.. besok pagi kamu pasti akan merasa lebih puas lagi.. Mbak janji deh.." ujarnya dengan mimik seperti menyembunyikan sesuatu.

Aku pun mengangguk. Mungkin karena kelelahan setelah di 'karaoke' oleh gadis perawat yang cantik dan sexy, aku pun tertidur malam itu. Tapi tengah malam, sekitar pukul dua dini hari, aku merasa 'senjata' andalanku kembali diobok-obok dan kini yang mengoboknya bukan hanya Mbak Wiwin tetapi seorang perawat lain juga. Namanya belakangan kuketahui adalah Viviana. Gadis ini juga tak kalah cantik bahkan buah dadanya itu benar-benar menggelembung di balik seragam putihnya. Lebih besar dari punya Mbak Wiwin dan juga pasti lebih kenyal!

Mereka terus saja menjilati, mengulum dan menghisap-hisap batanganku. Yang seorang di sebelah kananku dan yang seorang lagi di sebelah kiriku. Tanganku yang kiri meremas-remas susu Viviana sedang tangan yang kanan meremas susunya Wiwin. Setelah sepuluh menit, batang kejantananku mulai mengeras dan siap untuk ditusukkan. Viviana kemudian naik ke atas ranjang dan menyingkapkan roknya. Duh.. rupanya ia sudah tidak mengenakan celana dalam. Ia kemudian duduk di atas kepalaku. Dengan sengaja ia mengarahkan liang kewanitaannya ke wajahku. Aku tiba-tiba teringat dengan film porno yang pernah kutonton seminggu yang lalu. Ya.. aku harus menjilatnya terutama di bagian kecil dan merah itu.. ya apa ya namanya? Klitoris ya? nah itu dia! Tanpa disuruh dua kali aku langsung mengarahkan lidahku ke bagiannya itu.

"Slep.. slep.. slep.." terdengar bunyi lidahku saat bersentuhan dengan klitoris Viviana. Dan Wiwin? Rupanya ia sudah membuka seluruh pakaian seragamnya lalu menduduki batanganku yang sudah sangat mengeras dan berdiri dengan gagahnya. Dengan tangan kirinya ia meraih batang kejantananku itu lalu dengan pelan ia mengarahkan senjataku itu ke liang senggamanya. "Bles.. jleb.. bles.." batang kejantananku sudah masuk separuh, ia terus saja bergoyang ke bawah ke atas. Buah dadanya yang montok bergoyang-goyang dengan indahnya, kedua tangannya memegang sisi ranjang.

Wah.. dikeroyok begini sih siapa yang nggak mau, bisa main dua ronde nih. Setelah beberapa menit, kami berganti posisi. Viviana kusuruh tidur dengan posisi tertelungkup. Sementara Wiwin juga tidak ketinggalan. Lalu dengan penuh nafsu aku membawa batanganku dan mengarahkannya ke liang senggama Viviana dari arah belakang. "Bles.. bles.. bles..jeb!!" Liang senggamanya berhasil ditembus oleh senjataku. Terdengar suara lenguhan Viviana karena merasa nikmat. "Uh.. uh.. uh.. uh.. Terus Dik.. Enak..ikmat..!" Tanganku pun tidak kalah hebatnya. Kuraih buah dadanya sambil kuremas-remas. Puting payudaranya kupegang-pegang.

"Gantian dong.." tiba-tiba Wiwin minta jatah. Duh, hampir kulupakan si doi. Aku cabut batang kejantananku dari liang senggama Viviana lalu kubawa ke ranjang sebelah di mana telah menanti Wiwin yang sedang mengelus-elus kemaluannya yang indah. Tanpa menunggu lagi, aku naik ke ranjang itu lalu kumasukkan dengan dorongan yang amat keras ke liang senggamanya.
"Jangan keras-keras dong Dik.." erangnya nikmat.
"Habis mau keluar nih, Mbak.. Di dalam atau di luar.." aku tiba-tiba merasakan bahwa ada sesuatu yang nikmat akan lepas dari tubuhku.
"Di mukaku aja Dik.." jawabnya di tengah erangan nafsunya.
Lalu kutarik batang kejantananku dari liang senggamanya yang sedang merekah dan membawanya ke kepalanya. Lalu aku menumpahkan cairan putih kental itu ke wajahnya. "Crot.. crot..crott.. crot.. crot!" Kasihan juga Mbak Wiwin, wajahnya berlepotan spermaku. Ia tersenyum dan berkata, "Terima kasih Dik.. aku amat puas.. demikian juga Mbak Vivi.."

Belakangan setelah aku keluar dari rumah sakit, aku mendengar bahwa Wiwin dan Viviana memang bukan perawat tetap di rumah sakit itu. Mereka hanya bekerja sambilan saja. Mereka sebenarnya dua orang mahasiswi kedokteran di sebuah universitas swasta di Surabaya. Tiap kali mereka bekerja di sana, selalu ada saja pasien pria entah remaja atau orang dewasa yang berhasil mereka ajak berhubungan seks minimal satu kali. Nah lho..!

Bagi pembaca wanita yang ingin mencoba kenikmatan memadu cinta dengan pengarang cerita di atas, silakan hubungi penulis via e-mail secepatnya! Siapa cepat dia dapat..! Ada souvenir menarik untuk 5 orang pertama yang menghubungi saya

Arjuna Bagian 13, Hampir Habis

Unknown | Selasa, April 23, 2013 | 1komentar
Selain itu, Dewi setiap kali mendengar Arjuna berbicara mengenai ciuman, ada perasaan aneh di dalam dadanya. Dan mungkin karena memang Dewi sendiri ingin dekat dengan anak tunggalnya itu, makanya Dewi tidak pernah keberatan anaknya menciumi dirinya.Setelah menutup makanan di bale-bale dengan tudung saji. Mereka berdua masuk kamar Dewi. Dewi rebah di sana di tengah ranjang. Arjuna rebah disampingnya dan mulai menciumi ketek kiri Ibunya. Berhubung Ibunya bersikeras bahwa hanya lima menit saja, maka Arjuna memutuskan untuk tidak hanya mengeksplorasi ketiak Ibunya.Arjuna mulai menciumi ketek kiri Ibunya. Sesekali dipagutnya bulu ketiak Ibunya. Kini Arjuna mulai hafal bau tubuh Ibunya. Bahkan ketika masturbasipun bau tubuh Ibunya teringat di benaknya. Ciuman di ketek itu dilanjutkan Arjuna dengan mulai mencium ke arah dada Ibunya.Ketika Dewi merasakan bibir Arjuna mulai meninggalkan ketiaknya dan kini berjalan menyusuri pinggir ketiak dan akhirnya menyusuri bagian atas dadanya, ia berkata,“Jun, kamu ngapain?”“Mau cium ketiak Ibu sebelah kanan,” kata Arjuna lalu meneruskan perjalanan bibirnya itu yang kini sudah di tengah bagian atas tetek Ibunya yang terbuka dan tidak terbungkus kain. Dewi merasakan kulitnya bagai tersengat listrik arus rendah, dan kepalanya bagaikan berputar.“Bu?” kata Arjuna tiba-tiba.“ya?”“Kemarin ada kakak kelas yang bilang bahwa ada cewek yang manis dan ada yang tidak. Ibu termasuk yang manis, kan ya? Pasti deh.”“Ah, Ibu itu biasa aja. Gak terlalu manis.”“Ah, Ibu bohong. Coba deh…..” kata Arjuna dan tiba-tiba Arjuna menjilat payudara kiri bagian atas Dewi. Dewi tersentak kaget dan menarik nafas cepat ketika merasakan lidah muda Arjuna menyapu payudara kanannya itu.“Wah. Benar, kan. Ibu rasanya manis.”Dewi harus menarik nafas dulu baru menjawab,“Kamu itu. Jelas-jelas Ibu asin begini karena belum mandi.”“enggak kok. Nih buktinya…..” Arjuna menjilat lagi, kini agak ke tengah, “ tuh kan. Manis lho, Bu.”Dewi kini merangkul kepala Arjuna dengan tangan kirinya secara perlahan.“Udah, Jun. nanti kamu kesiangan.”Namun Arjuna kembali menjilat dada Ibunya, kini lembah diantara kedua bukitnya yang disapu oleh lidah Arjuna. Arjuna yang mulai berahi kini semakin berani. Sebelumnya ia menjilat Ibunya sekali-sekali. Kini setelah lidahnya mencapai pinggir bukit sebelah kanan Ibunya, ia mulai menjilati daerah itu dengan sapuan lidah yang cepat.Dewi merasa tiba-tiba dilanda birahi. Dan ia tiba-tiba merasa takut. Mengapa ia birahi pada anak sendiri? Maka ia segera mendorong Arjuna dan berkata,“Udah, Jun. kamu bakal kesiangan.”“Yaaah…… ketek kanan Ibu belum….”“Udah, nanti aja…..”Arjuna sebenarnya sudah birahi dan tidak ingin menghentikan aksinya. Namun ia tahu bila ia bersikeras, maka Ibunya akan marah. Oleh karena itu, ia segera menghentikan aksinya lalu tersenyum dan berkata,“Ibu udah janji, lho.”Dengan perkataan itu ia meninggalkan kamar Ibunya untuk sarapan pagi.Dewi tidak tahu harus berbuat apa-apa. Karena hal yang dimulai untuk membuat ia dan anaknya menjadi dekat, kini seakan mulai bergerak ke arah yang lain. Dewi mulai merasakan nafsu birahi ketika anaknya mulai menjilati dada atasnya. Ia bingung. Ia tidak ingin merasakan birahi kepada anaknya sendiri, ia harus menolak dan melarang Arjuna bila ingin menjilatnya lagi. Tapi ia takut bila dilarang, maka kedekatan mereka yang sudah terjadi, akan lenyap begitu saja.Dewi adalah perempuan desa yang mempunyai pikiran yang sederhana. Tidak ada sedikitpun kecurigaannya kepada anaknya. Ia tidak berfikiran bahwa memang sebenarnya anaknya hendak membuatnya birahi. Ia percaya, Arjuna memang ingin dekat dengannya. Jadi, apa yang harus dilakukan olehnya agar tidak memiliki nafsu itu?Siang hari Arjuna pulang. Dewi sedang di bale-bale termenung memikirkan segalanya. Seperti biasa Arjuna duduk di sampingnya lalu mencium dan mengecup pipi dan bibirnya. Namun kali itu Arjuna berkata,“Bu, akhir-akhir ini Arjuna merasa Ibu sudah ga sayang sama Arjuna lagi.”“Loh, kok kamu berkata begitu?”“Pertama. Tadi pagi Ibu mengusir Arjuna dari kamar Ibu…”“Tapi Jun. kamu kan harus sekolah. Ibu ga mau kamu terlambat dan dihukum,” sela Ibunya.“Dengerin Jun sampai habis dulu, dong. Pertama, Ibu mengusir Jun dari kamar tidur. Kedua, selama ini Jun mengecup Ibu, Ibu hanya diam dan tidak mengecup balik. Arjuna takut sebenarnya Ibu tidak ingin dekat dengan Jun. padahal Jun sangat ingin dekat sama Ibu.”“Ibu juga ingin dekat sama Jun. benar, kok.”“Kalau gitu Ibu juga kecup dong.”Arjuna kemudian mencium bibir Dewi lagi. Dikecupnya Ibunya, namun Ibunya terlambat mengecup balik.“Tuh, kan.”“Abis kamu cepat banget.”“Kan harusnya kerasa, setiap kali mau Jun kecup, bibir Jun kan menekan bibir Ibu. Coba lagi deh.”Arjuna mencium bibir Ibunya lagi. Kali ini Ia merangkul Dewi. Dewi memusatkan perhatian pada tekanan bibir Arjuna pada bibirnya. Dirasanya bibir anaknya itu menekannya, maka Dewipun menekan bibirnya untuk membalas kecupan itu. Akhirnya mereka berdua mengecup dan karena kedua bibir saling mengecup, bunyi yang dihasilkan lebih keras dari suara kecupan sebelum-sebelumnya.“Nah, gitu dong. Ini kan artinya Ibu juga sayang seperti Arjuna sayang Ibu. Tapi Ibu masih kaku nih. Harus banyak-banyak dilatih. Kalau menyamping kayak gini rasanya pegal, Bu. Di kamar Ibu aja ya? Sambil rebahan. Arjuna tadi abis olahraga.”“Makan siang dulu, Jun.”“Sebentar aja, kok.”Dewi merebahkan dirinya di kasur. Arjuna secara cepat sudah berbaring pula di sampingnya. Untuk dapat berciuman mereka berbaring menyamping. Dengan tangan kirinya, Arjuna merangkul Ibunya, dengan bujukan Arjuna Ibunya merangkul pundak anaknya itu. Karena seharusnya dua orang yang saling menyayangi tidak canggung saling memeluk. Mereka berciuman dan saling mengecup.Dewi merasakan kecupan Arjuna yang basah, karena sebelum berciuman Arjuna menjilat bibirnya sendiri untuk membasahi bibirnya itu. Arjuna menyuruh Ibunya juga untuk membasahi bibirnya sendiri, agar enggak kering. Soalnya kalo kering ga enak, kata Arjuna.Bibir Arjuna terasa hangat dan basah. Ciuman dan kecupan Arjuna pertama-tama terasa perlahan dan lambat. Makin lama tekanan bibir itu makin diperkeras. Tak sadar, Dewi mengikuti irama permainan bibir anaknya itu. Birahi Dewi kini mulai menanjak lagi.Sejenak Arjuna menghentikan ciumannya dan Dewi sedikit kecewa. Kata Arjuna,“Bibir ibu kering lagi tuh. Biar Arjuna yang basahin deh.”Lalu Arjuna mencium Dewi lagi, namun kini dirasakan lidah Arjuna menyapu bibirnya. Dewi mengecup lidah itu.“Sekarang ibu yang membasahi bibir Arjuna,” kata remaja itu.Dengan kaku Dewi menyapu lidahnya ke bibir anaknya sekali. Namun Arjuna menyuruh ibunya terus membasahi bibirnya. Akhirnya Dewi mulai menjilati bibir Arjuna secara perlahan. Tiba-tiba Dewi merasa bibir Arjuna menjepit lidahnya secara perlahan. Listrik birahi tiba-tiba menyetrum kemaluannya sehingga kini mulai basah dan lututnya menjadi lemas. Dijulurkannya lagi lidahnya ke mulut anaknya dan Arjuna mengenyot lidah ibunya itu dengan perlahan, membuat Dewi terbuai oleh nafsu birahi sehingga kini ia mendekap kepala anaknya. Dewi kini membalas mengenyoti bibir Arjuna.“Jilatin lidah, Bu,” kata Arjuna sambil mengulurkan lidahnya. Dewi lalu membalas dengan mengeluarkan lidahnya. Lidah mereka menari-nari, menekan dan menjilati satu sama lain. Air liur mereka bercampur di mulut mereka. Arjuna kemudian mengecup bibir ibunya yang mengecup balik. Sesaat mereka saling berciuman dan mengecup, lalu mereka mulai lagi adu lidah. Kadang mereka mengenyot lidah secara bergantian, kadang saling mengenyot bibir. Keringat mereka mulai deras membasahi tubuh mereka.Arjuna tahu kapan harus berhenti. Dia pikir mungkin saja sekarang ia bisa menggauli ibunya, tapi prosesnya terlalu cepat. Ibunya harus secara perlahan menginginkannya. Bila terlalu cepat, maka mungkin hubungan ini akan terjadi sekali saja, sedangkan Arjuna ingin ibunya menjadi miliknya selama-lamanya.Maka Arjuna lalu menghentikan aksinya. Lalu berkata,“Arjuna senang sekali. Kini kita udah sangat dekat. Yang kurang Cuma cium ketek aja.”Ibunya yang terengah-engah hanya memejamkan matanya. Beberapa saat kemudian ibunya membuka mata lalu mengangkat kedua tangannya. Arjuna kemudian menjilati ketiak kiri ibunya yang kini sudah basah oleh keringat dan sudah mengeluarkan bau badan lagi. Ibunya menggelinjang kegelian namun hanya tertawa tanpa melarang. Setelah beberapa menit, maka ketek sebelahnya lagi dilahap oleh Arjuna, sehingga kini kedua ketek itu basah oleh keringat Dewi sendiri dan air liur anaknya itu. Setelah itu Arjuna menghentikan aksinya.Malam itu ada perubahan di rumah. Ayah Arjuna, Waluyo, pulang dengan batuk-batuk. Ketika pulang maka Waluyo mengajak Dewi ke kamar dan mereka berbicara lama. Arjuna mengintip, mungkin kali ini mereka akan melakukan hubungan seks. Ternyata mereka berembug, bahwa Waluyo harus tidur di dalam agar tidak bertambah parah sakitnya. Yang anehnya, keduanya membicarakan mengenai apakah harus tidur berdua atau tidak. “Aku sudah tidak bisa tidur dengan kamu lagi, Wi. Kamu tahu itu,” kata Waluyo,” maka aku tidak bisa berbagi ranjang. Mungkin sebaiknya aku tidur di kamar Arjuna.”Hal ini menambah senang Arjuna. Kalau mereka tidur bersama dan berhubungan seks lagi, rencana Arjuna akan hancur total.“Nanti Arjuna ketularan. Jangan dong, Mas.”“Ya sudah. Suruh dia tidur di bale-bale saja.”“Jangan, Mas. Nanti dia juga sakit kena angin malam. Dia kan ga biasa tidur di luar kaya Mas.”“Terus bagaimana?”“Biar Arjuna tidur sama aku saja di kamar depan.”Waluyo menghela nafas. Akhirnya mereka setuju. Arjuna merasakan seperti di surga ketujuh. Usaha-usahanya pasti akan berhasil dengan sukses dengan kemungkinan di atas 90%, pikirnya.Jam sembilan malam biasanya Arjuna masuk kamar. Sementara ibunya masuk kamar pukul sepuluh atau lebih. Kini mereka berdua berbagi kamar, Arjuna mengharapkan ibunya seperti biasa akan berganti daster. Maka ditunggunya ibunya dengan cara ia pura-pura belajar dengan membaca di kamar tidur. Selain itu, kini ia telah siap dengan memakai sarung tanpa CD dengan kaos kutang saja.Ketika ibunya masuk, ibunya berkata,“Sudah. Ayo tidur.”Arjuna meletakkan bukunya di meja di samping tempat tidur. Lalu menunggu dengan harap-harap cemas. Namun, ibunya malah naik ke tempat tidur.“Loh? Selama ini ibu sudah bohongin Arjuna ya?”“Maksud kamu?”“Arjuna sudah beliin ibu daster, ternyata tidak dipakai.”Padahal Arjuna tahu ibunya selalu memakai daster. Cuma mungkin sekarang ia agak risih karena tidur bareng anaknya sendiri mengenakan daster yang kecil itu. Dewi jadi bingung harus bagaimana. Namun karena takut anaknya marah, maka ia bilang bahwa ia selalu pakai, dan hari ini lupa karena mengurusi bapaknya yang sakit.“Ya sudah. Kamu balik badan dulu. Ibu mau pakai daster.”“Emangnya kenapa, Bu?”“Ibu kan malu.”“Malu? Kalo sama orang lain boleh dan harus malu. Tapi sama anak sendiri masa malu, bu?”Dewi menjadi serba salah. Tapi dia selalu kalah debat sama anaknya. Maka, ia membuka lemari di mana tergantung daster itu. Dibukanya kainnya. Arjuna segera ngaceng melihat tubuh ibunya yang hanya berbalutkan BH dan celana dalam putih. Tubuh ibunya yang sudah sering dilihatnya itu tampak semakin menggiurkan bila dilihat langsung tanpa melalui lubang intip.Ketika ibunya telah selesai memakai daster dan membalikkan badannya Arjuna berkata lagi,“Ibu. Kok kelihatannya jelek ya daster itu jadinya, karena ada tali BH di balik daster.”“Iya, emang keliatan jelek.”“Jadi selama ini ibu selalu pakai BH di balik daster?”Dewi terdiam sebentar, namun karena dia adalah orang kampung yang jujur, akhirnya diberitahukanlah kepada anaknya bahwa sebenarnya ia tidak pernah pakai BH di balik daster selama ini.“Wah, kalo gitu jangan pakai BH dong, Bu. Masa Ibu keliatan aneh gini. Ibu sendiri merasa jelek kalau pake BH. Arjuna kan mau ibu terlihat bagus memakai daster pemberian Arjuna. Kalo kelihatan jelek, Arjuna jadi sedih dan menyesal jadinya membuat Ibu keliatan jelek.”Dewi menghela nafas. Akhirnya dengan keahlian seorang perempuan, ia membuka BHnya langsung tanpa membuka daster. Arjuna agak kecewa karena dikiranya ibunya akan buka daster dulu. Lalu Dewi merebahkan dirinya di tempat tidur.Arjuna tidur menyamping mengarah kepada ibunya sementara Dewi tidur telentang. Arjuna mengangkat tangan kanan ibunya dan memeluk pinggang ibunya kemudian menempelkan hidungnya di ketiak kanan ibunya yang berbulu dan mulai menjilati daerah itu.Dewi kegelian namun berkata sambil menahan tawa,“Kamu apaan sih jilat-jilat kayak anjing.”“Ah ibu….. tadi siang juga kita jilat-jilat lidah kayak anjing juga….”Dewi merasa jengah dan membiarkan anaknya menjilati ketiak kanannya. Kemudian sambil berkata bahwa ibunya harum, Arjuna mulai menciumi pundaknya. Tangan kiri Arjuna mulai menggeser tali daster Dewi perlahan sambil terus menciumi.“Kok talinya dibuka?” tanya Dewi.“Abis….. menghalangi bibir Arjuna. Ga enak kan cium kain.”Melihat ibunya tidak marah, Arjuna menarik tali itu hingga jatuh dari pundak ibunya dan meneruskan menciumi pundak dan kini menjalar ke leher. Dewi otomatis merangkul kepala Arjuna sehingga kini tali yang tadi jatuh, kembali ke pundaknya. Arjuna mendapat akal, lalu menciumi pundak ibunya lagi. Tiba-tiba Arjuna berhenti dan berkata,“Yah…… kena tali lagi, Bu. Talinya balik lagi waktu ibu mengangkat tangan. Cape deh….”Dewi yang tadinya mulai terangsang jadi menghilang rangsangan itu lalu menjawab enggan,“Terus kenapa?”“Ibu pakai kain lagi deh…… biar ga rese…. Biar Arjuna bisa cium pundaknya tanpa kena tali melulu.”Lalu Arjuna menarik badannya dan duduk di samping ibunya. Dewi merasa repot sekali. Tadi disuruh pake daster, sekarang disuruh pake kain lagi. Ribet amat nih anak.Dewi berdiri ke arah gantungan baju dan membuka dasternya. Arjuna dapat melihat punggung ibunya yang telanjang. Ketika ibunya mengambil BH, Arjuna berkata,“Ga usah bu. Tar Arjuna cium tali BH malah….”



Dewi akhirnya memakai kainnya dan dilipatnya disamping badannya. Arjuna sebenarnya ingin memeluk ibunya dari belakang sehingga ibunya tidak sempat memakai kain, namun anak itu berfikir bahwa kini belum saatnya. Maka dibiarkannya ibunya memakai kain itu. Jangan sampai ibunya tahu bahwa sebenarnya Arjuna ingin menyetubuhinya.Dewi merebahkan dirinya di samping Arjuna telentang, sementara Arjuna dengan sigap memeluk perut ibunya dengan tangan kanan. Lalu mulai menciumi pundak ibunya lagi. Dewi memeluk kepala Arjuna dengan tangan kanannya yang tertindih badan anaknya itu sehingga kini posisi Arjuna agak menindih bagian tubuh sebelah kanan ibunya. Dada kanan Arjuna dapat merasakan menempel di dada kanan ibunya yang terbalut kain.Arjuna menciumi pundak kanan ibunya lalu turun ke bagian atas dada ibunya yang menjendol karena tertutup kain.“Arjuna, “ bisik ibunya,” ibu kok rasanya aneh ya. Kamu itu ciumin ibu kayak gini kok kita jadi kayak sepasang kekasih?”Arjuna menegakkan kepalanya. Katanya, “Bu. Kita ini lebih dekat lagi hubungannya dibanding sepasang kekasih. Kita kan ibu dan anak. Maka, kalau kekasih itu kayak begini, kenapa ibu sama anak ga boleh dekat kayak begini juga? Kekasih itu saling menyayangi, kan?”“Iya sih…. Tapi kan beda…..”“Ibu sayang Arjuna, ga?”“Ya sayang lah.”“Arjuna sayang sama ibu. Nah kalau kita sama-sama sayang, bukankah saling mengasihi?”Dewi terdiam. Hal seperti ini agak berat dipikirkan dalam otak perempuan desa.Arjuna berkata lagi,“Kekasih kan berarti orang yang mengasihi. Artinya kalau ibu mengasihi Arjuna dan Arjuna juga mengasihi ibu, artinya kan kita kekasih ya?”Akhirnya Dewi berkata, “Aduh, ga tahu deh. Iya kali. Ibu jadi pusing.”“Nah, ibu sendiri ngaku. Sekarang kita berdua adalah kekasih. Ibu kekasih Arjuna. Iya kan?”“Iya deh,” kata Dewi.Arjuna beringsut menindih seluruh tubuh ibunya.Dewi menghela nafas karena tubuhnya ditindih anaknya lalu bertanya, “kamu mau ngapain?”“Cium bibir kekasih…”Arjuna mencium bibir ibunya sambil tangannya diselusupkan di bawah tubuh ibunya sehingga memeluknya. Dewi secara instingtif memeluk Arjuna dan mendekap kepala anaknya itu.Arjuna mulai mengecup-ngecup bibir ibunya dan Dewi pun membalas, karena Dewi tahu kalau ia tidak mengecup balik maka Arjuna akan protes. Kecupan bibir mereka mula-mula perlahan, namun makin lama semakin mesra. Tekanan bibir mereka makin keras dan lama. Situasi memanas karena ciuman mereka semakin hot dan berani. Tak lama terdengar suara kecupan kecil susul menyusul ketika bibir mereka saling diadu. Suara kecupan itu makin lama makin keras dan basah.Arjuna mulai menjilati mulut ibunya sementara ibunya mengecap-ngecap bibir dan lidah Arjuna.“Balas jilat dong bu…..”Dewi menjulurkan lidahnya dengan canggung yang disambut dengan sedotan bibir anaknya. Lidah Dewi menyapu-nyapu perlahan dan malu-malu, sementara Arjuna dengan nafsu balas menjilat dan sesekali menyedot lidah ibunya. Lama-kelamaan birahi Dewi bertambah tinggi sehingga kini jilatan dan kecupan bibirnya tak kalah serunya dengan anaknya. Tiba-tiba, karena tidak tahan lagi, berhubung sudah lama tidak dinafkahi secara batin oleh suaminya, Dewi membalikkan badannya sambil memeluk erat anaknya sehingga kini Dewi yang menindih anaknya. Di dorongkan tangannya sehingga pelukan mereka berdua lepas, setengah duduk Dewi memposisikan selangkangannya sehingga kini menekan bagian bawah tubuh anaknya. Sarung anaknya telah tertarik hingga kontolnya mencuat, namun karena diduduki, maka kini posisinya terhimpit. Memek Dewi yang terbungkus celana dalam kini menekan bagian bawah batang kontol Arjuna.Ketika dirasakannya posisinya telah tepat, Dewi segera merebahkan diri lagi lalu dengan buas mencaplok mulut anaknya yang tampak sedikit terkejut karena tindakannya. Arjuna serasa di surga ke tujuh. Ia sempat kaget badannya diputar sehingga sekarang ia yang telentang. Namun ketika ia baru hendak bertindak, dirasakan kontolnya menempel ke sesuatu yang halus namun basah. Rupanya celana dalam ibunya yang basah oleh cairan kewanitaan. Tiba-tiba pula ibunya menciuminya lagi.Dewi harus sedikit melengkungkan tubuhnya karena Arjuna belum mencapai tinggi badan yang ideal dalam posisi ini. Namun pikiran Dewi tidak terlalu memperhatikan hal ini. Nafsu birahi perempuan ini sudah menguasai jalan pikirannya. Sambil menggoyangkan dan menekan pantatnya, ia merasakan sensasi klitorisnya digeseki sepanjang batang kontol anaknya yang lumayan besar. Mungkin hampir sebesar burung suaminya. Dewi menjadi liar bagai binatang buas. Ia mengentoti kontol anaknya walaupun dibatasi celana dalam sambil menyerang bibir dan lidah anaknya dengan bibir dan lidahnya sendiri. Birahi yang besar tidak memikirkan apa-apa lagi selain seks, sehingga ludahnya yang mulai menetes dan kadang teruntai dari mulutnya ke mulut anaknya tidak lagi diindahkan. Segala sopan-santun dan norma dilupakan.Arjunapun menjadi senang. Dilahapnya ludah ibunya dengan rakus bagaikan minum air surgawi. Ia mengimbangi gerakan selangkangan ibunya dengan goyangan pantatnya sendiri. Sementara keringat mereka berdua kini telah membasahi sekujur tubuh mereka.Tiba-tiba ibunya melenguh keras lalu menekan selangkangannya dalam-dalam. Arjuna merasakan celana dalam ibunya kini sudah lepek sekali dan hangat terasa di kontolnya. Ia tiba-tiba merasa lututnya lemas dan tiba-tiba pula ia ejakulasi. Spermanya menghambur ke segala arah membasahi perutnya, kain ibunya di bagian perut dan juga celana dalam ibunya.Akhirnya ibunya tak bergerak namun masih menindih tubuh Arjuna. Bibir mereka bersatu kelelahan. Tak lama ibunya membaringkan dirinya di sebelah Arjuna lagi.“Maafkan ibu, Jun. ibu sudah lama tidak merasa begini…..”Arjuna memotong, “ Arjuna sayang ibu. Apapun yang ibu mau, akan Arjuna lakukan. Ibu senang?”Dewi hanya mengangguk. Mereka diam beberapa saat.“Tapi ini salah, Jun.”“ga ada yang salah. Ibu adalah kekasih Jun. itu ibu sendiri yang mengakui. Kalau ibu senang dengan begini, maka Arjuna ga akan menolak. Yang penting ibu senang….”“Tapi…..”“Ga ada tapi-tapi…… ibu kekasih Jun, kan?”Dewi mengangguk.“Ga ada yang perlu dibicarakan lagi. Ga ada yang perlu dimaafkan.”“Ibu jadi pusing. Ibu tidur dulu…….”Dewi membalikkan badannya hingga membelakangi Jun tanpa berusaha membersihkan bajunya maupun tempat tidur dari peju anaknya. Arjuna memegang pundaknya. Katanya,“Bu….”Arjuna takut sekarang ibunya menjadi tak ingin lagi bersama dirinya. Katanya,“Ibu marah sama Jun?”Tapi Dewi tidak menyahut. Gawat, pikir Arjuna. Ia merangkul ibunya dari belakang. Dipanggilnya ibunya lagi. Tapi tetap tak ada jawaban. Harus ditest, pikir Arjuna. Maka ia mencium punggung ibunya. Tak ada jawaban. Dicupangnya leher ibunya. Ibunya menggeliat dan mendesah tapi tidak ada jawaban. Kalau ibu marah dan tak mau lagi, tentu Arjuna akan dibentak, tapi ibunya diam. Dengan penuh perasaan lega Arjuna memejamkan matanya dan ia segera tertidur.Paginya Arjuna dibangukan ibunya yang telah memakai kain yang lain. Ibunya bergegas pergi namun Arjuna mengejarnya sampai di dapur dan ibunya sedang merapihkan lemari piring yang seharusnya tidak perlu dirapikan.“Ibu marah?”Dewi hanya menggeleng. Arjuna memeluk ibunya dari belakang. Tidak ada tanggapan. Arjuna mengenyoti pundak ibunya di bagian belikat sampai tempat itu bertanda ungu. Tak ada tanggapan. Arjuna menarik tangan ibunya dengan hati yang kesal. Ibunya tidak berkata apa-apa pula bahkan ibunya tampak berusaha tidak memandang mata Arjuna. Arjuna membawa ibunya ke kamar. Arjuna mendorong tubuh ibunya ke atas tempat tidur. Ibunya duduk di pinggir tempat tidur sambil menunduk. Arjuna duduk di tengah tempat tidur di sebelah ibunya, lalu memeluk ibunya dari belakang lalu menarik tubuh ibunya untuk berbaring di tempat tidur sejajar dengan dirinya. Ibunya beringsut berbaring di ranjang dengan menaruh kedua kakinya ditempat tidur dan kini mereka berbaring berhadapan.Ibunya hanya diam saja bahkan kini matanya terpejam. Arjuna menciumi muka ibunya dengan sedikit kasar lalu diciumnya bibir ibunya. Tak disangka kali ini ibunya balas mencium bibirnya. Mereka akhirnya berpelukan menyamping dengan dada saling berhimpitan. Setelah puas berciuman dan bertukaran ludah Arjuna mulai menjilati leher ibunya yang kini telah berkeringat. Ibunya menggelinjang sambil mendesah. Desahan ibunya berbeda dengan tadi malam. Tadi malam mereka berusaha meredam suara karena ada ayah di kamar yang satu, kini mereka hanya berdua saja. Kini desahan ibu dapat terdengar dengan jelas.Arjuna mengenyoti leher ibunya. Ibunya mengerang-ngerang dan tiba-tiba saja berkata,“Aaahhhhhh……… udah Jun…… geli leher ibu….. lidah kamu nakal……… ibu geli……”Arjuna merasakan sebelah kaki ibunya yang bebas kini melingkari pahanya. Dari balik sarungnya, Arjuna merasakan ibunya mulai menekan-nekan burungnya dengan selangkangan ibunya. Arjuna segera menarik sarungnya keras-keras sehingga kontolnya bebas. Arjuna kini merasakan celana dalam ibunya yang kering menekan batang kontolnya. Tibalah ide brilian yang lain.“Aduh bu….. celana dalam ibu masih kering, titit Arjuna sakit. Buka aja deh celana dalam ibu…”“Jangan, Jun. begini aja,” kata ibunya di antara desah dan erangannya.“Please bu…. Sakit nih…….”Dewi yang sedang birahi, karena rupanya dari bangun pagi terbayang orgasme semalam yang sudah lama tak dirasakannya lagi, tetap menggeseki burung anaknya sambil memeluk erat anaknya, seakan tak mendengar suara anaknya.“Ibu jahat….. ga sayang Arjuna! Gimana kalau luka?”Mendengar kata-kata Arjuna yang sedikit tinggi, Dewi menjadi berfikir. Kasihan juga anaknya kalu burungnya luka. Walaupun berpikir, Dewi terus menggeseki burung anaknya itu. Akhirnya, dengan gerakan cepat dewi mengangkat kainnya, melepaskan celana dalamnya, lalu menindih anaknya. Untuk posisi ini Dewi pertama-tama berlutut di samping tubuh anaknya, lalu menduduki kontol anaknya lalu menindih lagi anaknya.Arjuna menjadi sangat girang. Dirasakan batang kontolnya ditekan oleh sesuatu yang hangat dan sedikit lembab. Kedua tangan Arjuna meraih pantat ibunya. Senangnya ketika ia merasakan pantat ibunya yang telanjang dikarenakan kain ibunya telah ditarik sampai ke pinggang.Arjuna menggoyangkan pantatnya juga. Kini mereka berdua saling menggesekkan alat vital-masing-masing. Mulut Arjuna pun sudah mulai bergerilya lagi.Bila kemarin malam Arjuna merasa di surga dunia, kini Arjuna merasa bagaikan di surga ke tujuh. Kontolnya dapat merasakan bibir memek ibunya membungkus batang kontolnya. Dan dinding di balik bibir vagina itu begitu hangat dan licin juga basah. Di remasnya pantat telanjang ibunya dengan kedua tangannya sementara mulutnya asyik menyedot-nyedot dan mencupangi leher ibunya.“Aaah…… ahhh……. Peluk ibu Jun…….. goyang Jun….. goyang yang keras………”Dengan kedua tangannya, Dewi memegang wajah anaknya lalu mencium bibirnya dengan penuh nafsu. Arjuna merasakan lidah ibunya yang basah menerobos mulutnya, tak mau kalah Arjuna membalas dengan lidahnya. Lidah mereka kini berperang di dalam dan luar bibir mereka, sementara bibir ibunya bagian selangkangan sedang membungkus kontol Arjuna, kedua organ intim mereka juga sedang bertempur untuk mencapai puncaknya.Arjuna kini menggerakkan tangannya ke atas. Di pegangnya kain ibunya pada bagian atas, lalu dibetotnya kebawah keras-keras sehingga kain ibunya kini berjumbel di pinggang. Ibunya kini telanjang. Kedua tangan Arjuna disisipkan di antara tubuh mereka, lalu mulai meremasi payudara ibunya. Ibunya melenguh keras lalu melepas ciuman.“iyaa….. aaahhh……. Remas tetek ibu, naaaakk……..”Ibunya kini duduk di atas kontol Arjuna dengan kedua tangan memegang tangan Arjuna yang sedang meremasi payudaranya.Arjuna melepaskan tangan kirinya dari payudara ibunya. Kini dapat dilihatnya tetek ibunya yang sebesar parutan buah kelapa namun berbentuk tetesan air itu secara dekat. Kulit toket ibunya basah oleh keringat sehingga tampak mengkilat. Pentil ibunya sudah membesar sementara bagian dasar pentil itu sudah mengecil, sehingga tampak bagai ujung belakang pulpen yang tegak menantang. Arjuna tak tunggu waktu lama mengenyot puting kanan ibunya itu.“Iyaaaaahhhhh…….. isep tetek ibu, Jun………..”Arjuna merasakan tetek ibunya agak asin dan ada juga bau tubuh ibunya yang terbawa di sana. Sungguh sangat lezat. Hisapan Arjuna membuat ibunya semakin kencang menggoyangkan pantatnya dan kini selangkangan mereka berdua telah basah kuyup oleh cairan kewanitaan Dewi dicampur dengan keringat ibu anak itu. Bau tubuh ibunya memenuhi ruangan.Keringat mereka bercampur lagi. Toket kanan ibunya telah basah oleh campuran keringat mereka berdua, juga ludah Arjuna. Setelah lama-kelamaan toket ibunya itu sudah bau mulut Arjuna, maka Arjuna ganti melahap payudara kiri ibunya. Dikenyot dan dijilatnya buah dada ranum ibunya itu dengan rakus bagaikan orang kelaparan yang baru ketemu makanan.Goyangan pantat Dewi semakin lama semakin hebat. Selangkangannya dan anaknya sudah licin dan basah karena cairan kewanitaannya. Arjuna pun mengimbangi goyangan ibunya dengan menekan-nekan batang kontolnya sepanjang kemaluan ibunya yang sangat hangat. Bahkan Arjuna merasakan memek ibunya mengeluarkan cairan kental, licin dan sedikit panas yang menambah hot suasana, terutama di selangkangan mereka berdua.Akhirnya ibunya menekan kontol Arjuna dengan keras sambil berteriak kecil,“Ibu sampeeeeeee…..”Bersamaan dengan itu, Arjuna merasakan lubang ibunya bagaikan memancarkan air panas yang membuat dirinya juga tak dapat menahan diri. Sambil menyedot puting susu ibunya keras-keras, Arjuna memeluk erat tubuh telanjang ibunya sambil menekan pantatnya ke atas sehingga batang kontolnya dan memek ibunya beradu dengan kuat seakan sedang adu kekuatan untuk saling menjatuhkan.Kontol Arjuna berkedut-kedut keras menumpahkan sperma yang menciprati selangkangannya dan selangkangan ibunya. Selama beberapa saat mereka menikmati orgasme yang mereka rasakan. Lalu kemudian Dewi merebahkan diri di samping kiri Arjuna kelelahan. Telapak tangan kanannya ditaruh di dahi. Ia memejamkan mata dan beristirahat setelah orgasme yang bahkan lebih hebat dari semalam.

Arjuna Bagian 10

Unknown | Minggu, April 21, 2013 | 0 komentar
Cerita Sebelumnya Kulit Ibunya licin di wajah Arjuna karena keringat. Baik keringat Arjuna sendiri dan Ibunya kini berbaur. Dapat dirasakan Arjuna, buah dada Ibunya menekan dadanya sendiri. Ingatan akan bentuknya membuat burung Arjuna kini menegak sampai seratus persen dan tidak dapat bertambah panjang lagi. Maka Arjuna membenamkan wajahnya di dada Ibunya, dapat dirasakan bibirnya menempel di bagian atas kedua payudara Ibunya dan sedikit bibirnya menempel di sela-sela buah dada itu yang seakan adalah jurang pemisah kedua gundukan indah.Tiba-tiba Dewi membeku. 

Lalu mendorong tubuh anaknya sambil berkata,“Jun, sekarang kamu mandi dulu. Badan kamu keringetan.”Arjuna kecewa. Namun ia harus sabar. Ia tahu bahwa usahanya tidak akan langsung berhasil melainkan keberhasilan akan datang bila ia sabar. Maka Arjuna bergegas bangkit untuk mandi, sesuai dengan perintah Ibunya.Untuk selanjutnya, Arjuna terus membantu di rumah. 
 
Sexy Booo
Arjuna Bagian 10
Bahkan tanpa disuruh ia membantu. Ketika atap bocor, maka Arjuna tanpa diminta membetulkannya. Ketika pagar perlu diperbaiki, ia segera membetulkannya. Untuk sebulan kemudian, Arjuna menjadi anak yang berbakti sekali, menjadikannya tidak hanya disayang Dewi, melainkan bahkan mulai dipuji oleh Waluyo.Selama sebulan itu ia tidak pernah berpelukan lagi dengan Ibunya. Maka Arjuna berpikir apa yang akan menjadi aksinya berikut, karena usahanya tampak tidak berhasil menambah kedekatannya dengan Ibunya. Akhirnya ia menemukan suatu akal.Saat itu Arjuna akan pergi sekolah. Ia telah sarapan dan sudah berseragam dan menyandang tasnya. Ibunya sedang membereskan bale. Karena mereka selalu sarapan di sana, berhubung tidak punya meja makan. Arjuna menghampiri Ibunya dan mencium tangannya seperti kebiasaannya selama ini. 

Namun setelah itu ia bertanya kepada Ibunya,“Bu, kenapa ya, orang indonesia cium tangan orangtuanya ketika mau pergi?”“Mmmm….. sudah tradisi dari dulu, Jun.”“Iya, tradisi ini memang bagus, karena menunjukkan rasa hormat pada orang tua. Namun sepertinya tetap memberikan jarak. Sepertinya susah sekali untuk menjadi dekat dengan orangtua.”“Maksud kamu apa sih, Jun?”“Iya, Bu. Waktu itu Arjuna nonton film barat di kelurahan. Itu loh yang hari minggu. 

Film tentang keluarga yang harmonis di Amerika sana.”“Terus?”“Di sana mereka bukan cium tangan, lho Bu.”“Lah? Terus bagaimana?”“Mereka itu cium pipi kanan kiri. Kalau dilihat, keluarga mereka dekat sekali.

Banyak masalah dalam keluarga diselesaikan dengan mudah dengan saling berbicara bukan seperti orangtua dan anak, tapi seperti sederajat begitu. Mungkin itu karena mereka sangat dekat satu sama lain.”“Itu kan orang Amerika, Jun. kita kan orang Indonesia.”“Iya sih. Tapi selama sebulan ini, Arjuna bantu Ibu di rumah, Arjuna merasa kita menjadi semakin dekat. Ga kayak dulu-dulu. Sekarang kita banyak ngomong, deket sekali, Bu. Nah, Arjuna pikir, Ibu dan Arjuna sudah mulai berbicara dengan nyaman, seperti sederajat, sudah kayak orang Amerika itu dan terbukti hubungan kita lebih dekat lagi

Cerita Gadis Remaja

Unknown | Minggu, April 21, 2013 | 0 komentar
Suatu hari aku mendapat perintah dari boss untuk mendatangi rumah Ibu Yuli, menurutnya antena parabola Ibu Yuli rusak tidak keluar gambar gara-gara ada hujan besar tadi malam. Dengan mengendarai sepeda motor Yamaha, segera aku meluncur ke alamat tersebut. Sampai di rumah Ibu Yuli, aku disambut oleh anaknya yang masih SMP kelas 2, namanya Anita. Karena aku sudah beberapa kali ke rumahnya maka tentu saja Anita segera menyuruhku masuk. Saat itu suasana di rumah Ibu Yuli sepi sekali, hanya ada Anita yang masih mengenakan seragam sekolah, kelihatannya dia juga baru pulang dari sekolah.
"Jam berapa sich Ibumu pulang, Nit..?"
"Biasanya sih yah, sore antara jam 5-an," jawabnya.
"Iya, tadi Oom disuruh ke sini buat betulin parabola. Apa masih nggak keluar gambar..?"
"Betul, Oom.. sampai-sampai Nita nggak bisa nonton Diantara Dua Pilihan, rugi deh.."
"Coba yah Oom betulin dulu parabolanya.." Lalu segera aku naik ke atas genteng dan singkat kata hanya butuh 20 menit saja untuk membetulkan posisi parabola yang tergeser karena tertiup angin.

Nah, awal pengalaman ini berawal ketika aku akan turun dari genteng, kemudian minta tolong pada Anita untuk memegangi tangganya. Saat itu Anita sudah mengganti baju seragam sekolahnya dengan kaos longgar ala Bali. Kedua tangan Anita terangkat ke atas memegangi tangga, akibatnya kedua lengan kaosnya merosot ke bawah, dan ujung krahnya yang kedodoran menganga lebar. Pembaca pasti ingin ikut melihat karena dari atas pemandangannya sangat transparan. Ketiak Nita yang ditumbuhi bulu-bulu tipis sangat sensual sekali, lalu dari ujung krahnya terlihat gumpalan payudaranya yang kencang dan putih mulus. Batang kemaluanku seketika berdenyut-denyut dan mulai mengeras. Sebuah pemandangan yang merangsang. Anita tidak memakai BH, mungkin gerah, payudaranya berukuran sedang tapi jelas kelihatan kencang, namanya juga payudara remaja yang belum terkena polusi. Dengan menahan nafsu, aku pelan-pelan menuruni tangga sambil sesekali mataku melirik ke bawah. Anita tampak tidak menyadari kalau aku sedang menikmati keindahan payudaranya. Tapi yah.. sebaiknya begitu. Gimana jadinya kalau dia tahu lalu tiba-tiba tangganya dilepas, dijamin minimal pasti patah tulang. Yang pasti setelah selamat sampai ke bumi, pikiranku jadi kurang konsentrasi pada tugas.

Aku baru menyadari kalau sekarang di rumah ini hanya ada kami berdua, aku dan seorang gadis remaja yang cantik. Anita memang cantik, dan tampak sudah dewasa dengan mengenakan baju santai ketimbang seragam sekolah yang kaku. Seperti biasanya, mataku menaksir wanita habis wajah lalu turun ke betis lalu naik lagi ke dada. Kelihatannya pantas diberi nilai 99,9. Sengaja kurang 0,1 karena perangkat dalamnya kan belum ketahuan.

"Oom kok memandang saya begitu sih.. saya jadi malu dong.." katanya setengah manja sambil mengibaskan majalah ke mataku.
"Wahh.. sorry deh Nit.. habis selama ini Oom baru menyadari kecantikanmu," sahutku sekenanya, sambil tanganku menepuk pipinya.
Wajah Anita langsung memerah, barangkali tersinggung, emang dulu-dulunya nggak cakep.
"Idihh.. Oom kok jadi genit deh.." Duilah senyumnya bikin hati gemas, terlebih merasa dapat angin harapan.

Setelah itu aku mencoba menyalakan TV dan langsung muncul RCTI Oke. Beres deh, tinggal merapikan kabel-kabel yang berantakan di belakang TV.

"Coba Nit.. bantuin Oom pegangin kabel merah ini.."
Dan karena posisi TV agak rendah maka Anita terpaksa jongkok di depanku sambil memegang kabel RCA warna merah. Kaos terusan Anita yang pendek tidak cukup untuk menutup seluruh kakinya, akibatnya sudah bisa diduga. Pahanya yang mulus dan putih bersih berkilauan di depanku, bahkan sempat terlihat warna celana dalam Anita. Seketika jantungku seperti berhenti berdetak lalu berdetak dengan cepatnya. Dan bertambah cepat lagi kala tangan Anita diam saja saat kupegang untuk mengambil kabel merah RCA kembali. Punggung tangannya kubelai, diam saja sambil menundukkan wajah. Aku pun segera memperbaiki posisi. Kala tangannya kuremas Anita telah mengeluarkan keringat dingin. Lalu pelan-pelan kudongakkan wajahnya serta kubelai sayang rambutnya.

"Anita, kamu cantik sekali.. Boleh Oom menciummu?" kataku kubuat sesendu mungkin.
Anita hanya diam tapi perlahan matanya terpejam. Bagiku itu adalah jawaban. Perlahan kukecup keningnya lalu kedua pipinya. Dan setengah ragu aku menempelkan bibirku ke bibirnya yang membisu. Tanpa kuduga dia membuka sedikit bibirnya. Itu pun juga sebuah jawaban. Selanjutnya terserah anda.

Segera kulumat bibirnya yang empuk dan terasa lembut sekali. Lidahku mulai menggeliat ikut meramaikan suasana. Tak kuduga pula Anita menyambut dengan hangat kehadiran lidahku, Anita mempertemukan lidahnya dengan milikku. Kujilati seluruh rongga mulutnya sepuas-puasnya, lidahnya kusedot, Anita pun mengikuti caraku.

Pelan-pelan tubuh Anita kurebahkan ke lantai. Mata Anita menatapku sayu. Kubalas dengan kecupan lembut di keningnya lagi. Lalu kembali kulumat bibirnya yang sedikit terbuka. Tanganku yang sejak tadi membelai rambutnya, rasanya kurang pas, kini saat yang tepat untuk mulai mencari titik-titik rawan. Kusingkap perlahan ujung kaosnya mirip ular mengincar mangsa. Karena Anita memakai kaos terusan, pahanya yang mulus mulai terbuka sedikit demi sedikit. Sengaja aku bergaya softly, karena sadar yang kuhadapi adalah gadis baru berusia sekitar 14 tahun. Harus penuh kasih sayang dan kelembutan, sabar menunggu hingga sang mangsa mabuk. Dan kelihatannya Anita bisa memahami sikapku, kala aku kesulitan menyingkap kaosnya yang tertindih pantat, Anita sedikit mengangkat pinggulnya. Wah, sungguh seorang wanita yang penuh pengertian.

"Ahh.. Ahh.." hanya suara erangan yang muncul dari bibirnya kegelian ketika mulutku mulai mencium batang lehernya. Sementara tanganku sedikit menyentuh ujung celana dalamnya lalu bergeser sedikit lagi ke tengah. Terasa sudah lembab celana dalam Anita. Tanganku menemukan gundukan lunak yang erotis dengan belahan tepat ditengah-tengahnya. Aku tak kuasa menahan gejolak hati lagi, kuremas gemas gundukan itu. Anita memejamkan matanya rapat-rapat dan menggigit sendiri bibir bawahnya.

Hawa yang panas menambah panas tubuhku yang sudah panas. Segera kulucuti bajuku, juga celana panjangku hingga tinggal tersisa celana dalam saja. Tanpa ragu lagi kupelorotkan celana dalam Anita. Duilah.. Baru kali ini aku melihat bukit kemaluan seindah milik Anita. Luar biasa.. padahal belum ada sehelai bulu pun yang tumbuh. Bukitnya yang besar putih sekali. Dan ketika kutekuk lutut Anita lalu kubuka kakinya, tampak bibir kemaluannya masih bersih dan sedikit kecoklatan warnanya. Anita tidak tahu lagi akan keadaan dirinya, belaianku berhasil memabukkannya. Ia hanya bisa medesah-desah kegelian sambil meremasi kaosnya yang sudah tersingkap setinggi perut. Begitulah wanita. Gam-gam-sus (gampang gampang susah) apa sus-sus-gam (susah susah gampang).

Tidak sabar lagi aku membiarkan sebuah keindahan terbuka sia-sia begitu saja. Aku segera mengarahkan wajahku di sela-sela paha Anita dan menenggelamkannya di pangkal pertemuan kedua kakinya. Mulutku kubuka lebar-lebar untuk bisa melahap seluruh bukit kemaluan Anita. Bau semerbak tidak kuhiraukan, kuanggap semua kemaluan wanita yah begini baunya. Lidahku menjuluri seluruh permukaan bibir kemaluannya. Setiap lendir kujilati lalu kutelan habis dan kujilati terus. Kujilati sepuas-puasnya seisi selangkangan Anita sampai bersih. Lidahku bergerak lincah dan keras di tengah-tengah bibir kemaluannya. Dan ketika lidahku mengayun dari bawah ke atas hingga tepat jatuh di klitorisnya, Kujepit klitorisnya dengan gemas dan lidahku menjilatinya tanpa kompromi. Anita tak sanggup lagi untuk berdiam diri. Badannya memberontak ke atas-bawah dan bergeser-geser ke kiri-kanan. Segala ujung syarafnya telah terkontaminasi oleh kenikmatan yang amat sangat dashyat. Sebuah kenikmatan yang bersumber dari lidahku mengorek klitorisnya tapi menyebar ke seantero tubuhnya. Anita sudah tidak mengenal lagi siapa dirinya, boro-boro mikir, untuk bernafas saja tidak bisa dikontrol. Aku jadi semakin ganas dan melupakan softly itu siapa.

Batang kejantananku sudah amat sangat besar bergemuruh seluruh isinya. Demi melihat Anita tersenggal-senggal, segera kutanggalkan modal terakhirku, celana dalam. Tanpa ba. bi. bu. be. bo segera kuarahkan ujung kemaluanku ke pangkal selangkangan Anita. Sekilas aku melihat Anita mendelik kuatir melihat perubahan perangaiku. Batang kemaluanku memang kelewatan besarnya belum lagi panjangnya yang hampir menyentuh pusar bila berdiri tegak. Anita kelihatannya ngeri dan mulai sadar ingatannya, kakinya agak tegang dan berusaha merapatkan kedua kakinya.

"Ampun Oom.. jangan Ooomm.. ampun Oomm.jangann.." Tangan Anita mencoba menghalau kedatangan senjataku yang siap mengarah ke pangkal pahanya.

Merasa mendapat perlawanan, sejenak aku jadi agak bingung, tapi untunglah aku memiliki pengalaman yang cukup untuk menghadapinya. Segera aku meminta maaf sambil tanganku kembali membelai rambutnya yang terurai agak acak-acakan.

"Nita takut Oom. Nanti kalau Mama tahu pasti Nita dimarahin. Dan lagi Nita nggak pernah kayak ginian. Nita juga jadi malu.." Katanya setengah mau menangis dan membetulkan kaosnya untuk menutupi tubuhnya.
"Jangan kuatir Nit. Oom tidak bermaksud jahat terhadap kamu. Oom sayang sekali sama Nita. Dan lagi Nita jangan takut sama Oom. Semua orang cepat atau lambat pasti akan merasakan kenikmatan hubungan 'beginian'. Jangan takut 'beginian' karena 'beginian' itu enak sekali."
"Iya, tapi Nita nggak tahu harus bagaimana dan kenapa tahu-tahu Nita jadi begini..?" Air mata Anita mulai mengalir dari pojok matanya. Melihat itu aku segera memeluknya agar bisa menenangkannya.

Agak lama aku memberi ceramah dan teori edan secara panjang lebar, sampai akhirnya Anita bisa memahami seluruhnya. Dan sesekali senyumnya mulai muncul lagi.

"Coba sekarang Nita belajar pegang 'anunya' Oom, bagus khan," aku meraih tangannya lalu membimbingnya ke batang kejantananku. Tangannya kaku sekali tapi setelah perlahan-lahan kuelus-eluskan pada batang kejantananku, otot tangannya mulai mengendor. Lalu tangannya mulai menggenggam batang kejantananku. Pelan-pelan tangannya kutuntun maju-mundur. Kelembutan tangannya membuat batang kejantananku mulai bergerak membesar, sampai akhirnya tangan Anita tidak cukup lagi menggenggamnya. Dan Anita kelihatan menikmatinya, tanpa kuajari lagi tangannya bergerak sendiri.

"Ahh.. enak sekali Nit.. aahh.. kamu memang anak yang pintar.. ahh.." mulutku tak sanggup menahan kenikmatan yang mulai menjalari seluruh syarafku. Sementara itu tangan kiriku mulai meremas payudaranya yang masih tertutup kaos Bali yang tipis. Belum pernah aku meremas payudara sekeras milik Anita. Tangan kananku yang satu meraih kepalanya lalu dengan cepat kulumat bibirnya. Lidahku menjulur keluar menelusuri setiap sela rongga mulutnya. Hingga akhirnya lidah Anita pun mengikuti yang kulakukan. Dari matanya yang terpejam aku bisa merasakan kenikmatan tengah membakar tubuhnya.

Segera aku meminta Anita untuk melepas kaosnya agar lebih leluasa. Dan tanpa ragu-ragu Anita segera berdiri lalu menarik kaosnya ke atas hingga melampaui kepalanya. Batang kejantananku semakin berdenyut-denyut menyaksikan tubuh mungil Anita tanpa mengenakan selembar benang. Tubuhnya yang sintal dan putih bersih membakar semangatku. Betul-betul sempurna. Kedua payudaranya menggelembung indah dengan puting yang mengarah ke atas mengingatkanku pada payudara Holly Hart (itu lho salah satu koleksi Playboy).

"Nit, tubuhmu luar biasa sekali.. Hebat!" Pujianku membuat wajahnya memerah barangkali menahan malu.
"Oomm, boleh nggak Anita mencium 'itu'nya Oom?" Anita tersipu-sipu menunjuk ke selangkanganku. Rasanya tidak etis kalau aku menolaknya. Lalu sambil duduk di sofa aku menelentangkan kedua kakiku.
"Tentu saja boleh kalau Anita menyukainya.." Kubikin semanis mungkin senyumku. Anita pun mengambil posisi dengan berjongkok lalu kepalanya mendekati selangkanganku. Mulanya hanya mencium dan mengecup seputar kepala batang kejantananku. Pelan-pelan lidahnya mulai ikut berperan aktif menjilat-jilatinya. Anita kelihatan keenakan mendapat mainan baru. Dengan rakus lidahnya menyusuri sekeliling batang kejantananku. Sensasi yang luar biasa membuatku gemas meremasi kedua payudaranya.

"Aaduuhh.. enak sekali Nit.. Teruss.. Nitt, coba ke sebelah sini," kataku sambil menunjuk ke buah pelirku. Anita segera paham lalu mejulurkan lidahnya ke pelirku. Anita menggerakkan lidahnya ke kanan-kiri atas-bawah.
"Oomm, ke kamar Nita aja yuk biar nggak gerah.." Sahutnya mengajak ke kamarnya yang ber-AC.
"Terserah Nita aja dehh.." balasku.
Begitu Anita merebahkan tubuhnya ke spring bed, aku tidak mau menunggu terlalu lama untuk merasakan tubuh indahnya. Segera kutindih dan kucumbui. Sekujur tubuhnya tak ada yang kusia-siakan. Terutama di payudaranya yang aduhai. Tanganku seakan tak pernah lepas dari liang kewanitaannya. Setiap tanganku menggosok klitorisnya, tubuh Anita menggerinjal entah mengapa. Sementara itu batang kejantananku seperti akan meledak menahan tekanan yang demikian besarnya.

Arjuna Perkembangan Birahi II

Unknown | Rabu, April 17, 2013 | 0 komentar
Dewi terkaget, namun melihat anaknya sudah bergegas mandi ia tidak berkata apa-apa lagi.Setelah mandi secara cepat, Arjuna mendapatkan Ibunya sedang di bale-bale mempersiapkan makanan untuk sarapan. Arjuna menghampiri Ibunya dan duduk disampingnya. Dewi tersenyum. Dari samping,

Arjuna melingkarkan sebelah tangannya ke pinggang Ibunya. Lalu seperti biasa, Arjuna mencium kedua pipi Ibunya masing-masing sekitar tiga detik diakhiri dengan kecupan yang menimbulkan bunyi. Lalu mereka berciuman di bibir. Biasanya sekitar lima detik. Tapi hari itu setelah lima detik, Arjuna memang melepaskan bibirnya sehingga menimbulkan suara kecupan lagi, namun kembali menempelkan bibirnya. Setelah lima detik Arjuna mengakhiri lagi dengan kecupan, namun kembali diciumnya bibir Ibunya.Akhirnya setelah kecupan ketiga,

Dewi mendorong kepala anaknya dan berkata,“Kamu semangat banget hari ini cium Ibu.”“Habis, Arjuna semakin hari semakin sayang Ibu.”“Ya udah, makan sana.”“Tapi ketek Ibu kan belum….”“Nanti kamu kesiangan. Lagian, kok kamu seneng banget ciumin ketek Ibu?”“Kan udah Arjuna bilang, Arjuna suka sekali sama bau badan Ibu yang belum mandi. Karena inilah bau badan Ibu yang asli. Ga ada bau tambahan kayak sabun. Kalo mencium bau badan Ibu ini rasanya Arjuna semakin dekat sama Ibu.”“Ya udah. Jangan lama-lama. Nanti kamu kesiangan.”Dewi mengangkat tangan kirinya ke atas. Tangan yang dekat dengan Arjuna. Arjuna berkata,“Ibu nanti pegal. Ibu tiduran aja sebentar.”“Aduh. Sempit di bale-bale.

Arjuna


Banyak perabotan. Piring, periuk sama gelas.”“Yah…. Di kamar Ibu aja, ya? Sebentar.”Pertama-tama Ibunya enggan, namun Arjuna yang pintar itu memelas dan dengan alasan ingin lebih dekat dan mengenal Ibunya, dan salah satu caranya adalah mengenal bau tubuh Ibunya, selain itu ciuman juga akan semakin mendekatkan juga menambah rasa sayang mereka, akhirnya Ibunya mengalah.

Arjuna 12 Perkembangan Birahi

Unknown | Jumat, April 12, 2013 | 1komentar
Dicobanya daster itu dengan menempelkannya didepan tubuhnya, dan ternyata tidak sama dengan ukuran tubuhnya. Daster itu bermodel rok di atas lutut, namun karena ukurannya kecil, jatuhnya tepat di tengah antara pantat dan lututnya. 

Untung saja ada karetnya sehingga bila dipaksa dipakai tidak akan robek.“Ibu ga suka, ya?” tampak wajah Arjuna menjadi sedih. Dewi berfikir mungkin karena Arjuna melihat reaksi dari dirinya yang terkejut.“Oh, Ibu suka,” katanya untuk menghIbur Arjuna.“Ibu pakai ya nanti malam? Udah Arjuna cuci tuh…”Dewi hanya mengangguk. Namun ia menjawab,“Ibu pakai, nanti kalau Bapakmu sudah selesai makan.”Itu berarti kalau Bapak tidak masuk rumah lagi, pikir Arjuna. 

Tentunya Ibunya takut kalo Bapaknya melihat Ibunya memakai daster kecil sehingga membuat tubuh menjadi seksi.“Arjuna boleh lihat ya? Soalnya Arjuna bangga kalau Ibu memakai pemberian Arjuna.”Dewi hanya mengangguk pelan.Malamnya, ketika Waluyo telah merebahkan diri di bale-bale, Dewi masuk kamarnya. Arjuna sudah siap di atas lemari mengintip Ibunya. Ibunya membuka kainnya sehingga hanya memakai kutang dan celana dalam. Lalu dipakainya daster itu. Daster itu tidak bertali dan menunjukkan sedikit bagian dada dan agak banyak bagian punggung. 

Ketika bercermin, Dewi melihat bahwa tali BH nya menyembul keluar, dan di bagian punggung Bhnya terlihat sehingga tampak tidak begitu enak untuk di lihat.Dengan cekatan tanpa membuka daster, Dewi membuka Bhnya dan menaruhnya di tempat tidur. Barulah dapat dilihat seorang perempuan seksi memakai daster, dengan pentil terlihat menyembul dari balik kain dasternya. 

Dewi merasa sedikit malu, karena yang dilihat di cermin tampak seperti bukan perempuan baik-baik, namun di lain pihak ia merasa amat seksi sehingga ia cukup lama bercermin dan melihat keadaannya dari berbagai sudut.Arjuna yang tak sabar segera turun dari lemari dan mendatangi kamar Ibunya. Dewi terkejut ketika didengarnya pintu kamar diketuk. Apakah suaminya mau masuk? Namun didengarnya Arjuna memanggilnya perlahan, maka Dewi membuka pintu.“Wah….. Ibu cantik sekali,” kata Arjuna ketika melihat Dewi, “ dan Arjuna bangga Ibu menjadi cantik karena pemberian Arjuna. Kok Arjuna baru tahu ya, kayaknya Ibu ini wanita tercantik di desa kita.”Dewi merasa jengah namun bahagia juga. Ia tidak curiga maupun heran, karena dipikirnya anaknya memuji dia karena sayang saja. Maka Dewi memeluk Arjuna sambil mencium pipi kirinya.“Terimakasih ya, Jun.”“Ibu, kok Cuma pipi? Kan kita cium bibir.”Dewi kemudian mencium bibir Arjuna.“pipi kanan belum.”Dewi mencium pipi kanan Arjuna.“sekarang giliran Arjuna, karena Ibu mau memakai pemberian Arjuna, maka Arjuna juga sangat berterima kasih.”Arjuna mencium kedua pipi Ibunya. Kali ini sudah tiga detik. Lalu diciumnya bibir Ibunya. Sedetik, dua detik, tiga detik, empat detik.. Dewi merasakan tubuhnya hangat karena ciuman bibir Arjuna yang hangat seakan menjalar ke seluruh badannya. Setelah lima detik Arjuna melepaskan bibirnya.“Bu?”“Ya?” jawab Dewi dengan suara sedikit serak.“Arjuna sayang banget sama Ibu. 

Boleh kan kalo Arjuna mencium Ibu kapan saja?”“Maksud kamu?”“Maksudnya ga hanya waktu pamit saja. Soalnya Arjuna pengen kasih liat bahwa Arjuna sayang sama Ibu.”“Boleh saja.”Arjuna kemudian mencium bibir Ibunya lagi. Mereka berangkulan semakin erat. Lalu setelah lima detik, Arjuna melepaskan bibirnya dan rangkulannya dan pamit untuk tidur. Sebenarnya ia buru-buru pergi karena tidak mau membuat Ibunya curiga dan selain itu ia ingin masturbasi di kamar.Ketika Arjuna bangun, Ibunya sedang menata piring untuk sarapan di bale-bale.

Tubuhnya membungkuk ke depan. Arjuna menyapa Ibunya, lalu mencium pundak Ibunya selama lima detik. Ia mencium bau ketiak Ibunya secara jelas.“Ih ngapain kamu cium pundak Ibu? Lagian Ibu kan belum mandi.”“Katanya Arjuna boleh cium kapan aja. Dan biar Ibu belum mandi tetap aja wangi, kok.”“bau gini kok wangi? Ngaco!”Ibunya lalu duduk di pinggir bale-bale. Arjuna yang pintar itu segera duduk di sebelahnya.“Untuk Arjuna sih bau badan Ibu itu wangi. Ga percaya?”Arjuna mengangkat tangan Ibunya lalu membenamkan wajahnya di ketika Ibunya yang lembab. 

Hidungnya dibelai bulu ketiak halus namun tidak lebat milik Ibunya. Bau tubuh Ibunya kini menyerang hidungnya dan menguasai otaknya.Ibunya yang kegelian menarik tubuhnya ke samping dan tertawa sambil berkata,“dasar bocah gemblung! Makan sana!”Maka Arjuna makan dengan lahap. Setelah itu, seperti biasa, ia mencium pipi dan bibirnya Ibunya. Kali ini proses ciuman di bibir sudah lima detik. Ibunya mendorong kepala Arjuna perlahan dan berkata,“Nanti kamu terlambat sekolah.”Arjuna hanya tertawa, lalu mencium ketek Ibunya. 

Perkembangan Birahi
Arjuna
Namun karena sedang tertutup, maka ia mencium bagian kiri atas dada Ibunya dan tangan kirinya tepat ditempat di mana ketek itu berada.“Mending Ibu jangan mandi deh sebelum sarapan,” kata Arjuna lalu bergegas berangkat ke sekolah.Setelah itu Ibunya tidak pernah mandi sebelum selesai sarapan yang menyebabkan Arjuna mengintip Ibunya mandi hanya pada sore hari saja. Ada sedikit penyesalan, namun setidaknya dia dapat mencium Ibunya tidak hanya pipi dan bibir.Aktivitas cium Arjuna menjadi bertambah. Kini bilamana mereka berduaan saja, maka Arjuna mencium pundak Ibunya, pipinya dan bibirnya. Pertama-tama hanya sekilas, namun karena Ibunya tidak marah, maka menjadi lebih lama. Namun untuk tidak mencurigakan, maka ciuman itu dilancarkan sekali-kali dan belum beruntun. Arjuna segera mencari akal agar dapat menciumi Ibunya secara beruntun.

Cara Claim Blog di Technocrati

Unknown | Senin, April 08, 2013 | 0 komentar
Tecnocrati
Ngomong-ngomong apa Anda sudah mengenal tentang Technorati ? Bagi yang belum mengenalnya, saya akan kasih penjelasan singkat tentang Technorati, Technorati adalah sebuah direktori terbesar saat ini dan memiliki fasilitas/fungsi yang cukup besar yaitu sebagai BlogSearch, Tags Aggregator dan Online Bookmarks. Dengan mendaftar di Technorati, akan meningkatkan traffic pengunjung ke blog kita, dan blog/website yang kita kelola lebih dapat dikenal oleh blogger lain, dan ini pun bisa disebut sebagai salah satu strategi SEO untuk blog/website kita.
Dengan mendaftarkan blog kita di Technorati, kita juga bisa mengetahui situs atau blog mana saja yang memasang link ke blog kita. Untuk mempersingkat waktu, ikuti langkah-langkah di bawah ini untuk mendaftar di Technorati :
  • Masuklah ke alamat www.technorati.com
  • Isilah data secara lengkap lalu klik join 
  • Setelah itu, akan muncul sebuah confirmation code. Lalu cek email anda yang telah didaftarkan di technorati tadi, lalu klik link yang telah diberikan melalui email anda. (ini adalah Email saya dari technocrati Hello, ! You're almost ready to start using Technorati! To verify your email address and get started, please go to: http://technorati.com/account/activate/azril21/05bd131d496fc0093102bed1506cd052/ If the above link is not clickable, please copy and paste the link into your web browser. Please do not reply to this email. If you require further help please visit our support forum at http://support.technorati.com/support/troubleshooting Thank you for using Technorati!
  • Setelah itu masukan url blog Anda (seperti gambar dibawah ini), dan kemudian klik Begin Claim.
  • Setelah itu, Anda tinggal menunggu Proses Claim, dan lakukan Complete Claim seperti gambar dibawah ini :
Salin kode berikut dan publikasikannya dalam sebuah posting di blog Anda. 


”<a 05bd131d496fc0093102bed1506cd052”src=”http://static.technorati.com/pix/fave/btn-fave2.png”/>



Technorati harus dapat menemukan kode klaim dalam blog Anda via feed (RSS atau Atom). Caranya adalah dengan menerbitkan posting baru dan menyisipkan kode klaim di dalamnya.

Dan sesudah itu, Anda tinggal klik Complete Claim
Berikutnya, Anda tinggal menunggu Kode Klaim yang sudah di masukkan dalam Postingan Anda di periksa oleh Technorati, untuk memastikan bahwa memang benar alamat URL yang diberikan, benar-benar milik Anda.

Dan yang terakhir (karena blog inipun belum terdaftar di Technorati), anda buat satu link dengan kode seperti dibawah ini, dan tampilkan di blog anda

Arjuna Bagian 11

Unknown | Sabtu, April 06, 2013 | 0 komentar
Benar kan, Bu?”“Betul. Terus?”“Nah, bagaimana kalau selain cium tangan, Arjuna juga cium pipi Ibu, siapa tahu nanti kita bisa lebih dekat lagi, Bu. Supaya nanti Ibu lebih sayang Arjuna, dan Arjuna lebih sayang Ibu?”Dewi berpikir sebentar. Namun, berhubung Dewi tidak tahu niat Arjuna sebenarnya, maka akhirnya ia memutuskan untuk memperbolehkan Arjuna.Segera Arjuna mencium kedua pipi Ibunya dengan cepat, agar tidak menimbulkan curiga. Lalu Arjuna segera berangkat sekolah. Akhirnya, kegiatan ini menjadi rutinitas setiap pagi. 

Arjuna akan cium tangan Ibunya, lalu mencium kedua pipi Ibunya. Minggu-minggu pertama ciuman Arjuna hanya sekejap. Namun makin lama, ciuman itu sedikit dilamakan oleh Arjuna. Dari hanya sepersekian detik, pada akhir minggu ketiga ciuman itu menjadi satu detik.Dewi senang juga dalam hatinya. 
 
Gadis Sexy
Cerita Dewasa
Anaknya menunjukkan kasih sayang padanya. Arjuna selalu membantu di dalam rumah, selain itu Dewi juga merasa bahwa perkataan Arjuna benar, bahwa dengan mencium pipi, mereka menjadi lebih dekat satu sama lain. Dewi menjadi lebih banyak bercerita kepada Arjuna mengenai rumah dan permasalahannya. Tentu saja bukan permasalahan seks dengan suaminya yang sudah lama tak pernah menafkahi secara batin, namun mengenai permasalahan rumah lainnya. 

Terkadang pula Dewi curhat bila ada permasalahan dengan tetangga. Makin lama mereka seakan menjadi teman yang dekat.Suatu hari, sekitar dua bulan setelah ciuman pertama Arjuna, Dewi memutuskan untuk membelikan baju baru untuk Arjuna dari uang tabungannya selama ini. Walaupun tidak menghabiskan tabungan, namun cukup mahal juga kalau dalam ukuran petani kecil. 

Arjuna gembira sekali, dipeluknya Ibunya, lalu diciumnya pipi Ibunya, kali ini sekitar dua detik dan ciuman Arjuna ketika dilepas terdengar suara kecupan. Dewi kaget, namun ketika dilihatnya wajah Arjuna sangat gembira, Dewi tidak curiga apa-apa. Mulai saat itu Arjuna mencium Ibunya dengan memberikan kecupan saat melepaskan bibirnya. Dan mereka menjadi lebih dekat lagi.Beberapa hari kemudian, saat hari minggu dan banyak orang desa menonton disana, Dewi memutuskan untuk menonton juga.Bersambung................

Arjuna Bag 9

Unknown | Rabu, April 03, 2013 | 0 komentar
Maka keesokkan harinya, Arjuna mulai beraksi. Ia kini tidak malas di rumah. Ia bantu Ibunya untuk mencuci piring bahkan pakaian sendiri. Kamar tidurnya selalu rapi bahkan kamar mandi dan dapur dibersihkannya seminggu sekali. Ibunya tentu senang Arjuna membantunya karena selama ini untuk merapikan tempat tidur sendiri saja Arjuna malasnya bukan main. Ketika ditanya Ibunya, 

Arjuna menjawab,“Arjuna baru sadar, Ibu capek sekali merawat rumah, anak dan ayah. Arjuna baru sadar Ibu sayang sama keluarga. Nah, Arjuna memutuskan untuk membalas kebaikan dan rasa sayang Ibu.
Arjuna akan bantu Ibu dan akan menyayangi Ibu.”Dewi yang tidak mengetahui intensi dari anaknya, menjadi berkaca-kaca dan terharu. Dipeluknya anak tunggalnya itu lalu berkata,
“Kamu memang anak Ibu yang pintar.”Sementara Arjuna bagaikan diberikan kado sebelum hari ulangtahun. Baru kali ini setelah ia mengetahui mengenai seks, Ibunya merangkulnya. Arjuna tak ingat kapan terakhir kali dipeluk Ibunya, mungkin kelas satu SD atau dua SD. 
Tapi kini Ibunya merangkulnya.Arjuna balas merangkul dengan kencang sambil berkata,“Arjuna sayang Ibu. Arjuna akan selalu menyenangkan Ibu, jangan sampai Ibu capek atau sedih. Arjuna akan menjaga Ibu selamanya.”Dewi tambah terharu dan mempererat rangkulannya. Sementara, Arjuna bagaikan di awang-awang. Saat itu sudah sore hari. Ia membantu Ibunya mencuci banyak perabotan dan piring. Berhubung mereka cuci piring di kamar mandi, maka keduanya jongkok sambil mencuci. 
Suasana hari itu panas sekali, mungkin karena hujan tidak turun selama berminggu-minggu. Keduanya berkeringat saat mencuci dan membilas perabotan itu. setelah selesai, maka barulah kedua Ibu dan anak itu berangkulan.Kepala Arjuna masih setinggi mulut Ibunya. Ketika Ibunya memeluknya, hidung Arjuna hinggap di bagian atas dada Ibunya, karena Dewi menarik kepala Arjuna sehingga dagu Dewi menempel pada ubun-ubun anaknya. Arjuna dapat mencium bau tubuh Ibunya yang berkeringat itu. 
Bau tubuh perempuan dewasa yang belum mandi. Baunya lumayan jelas dan menyengat hidung, namun bukan bau yang membuat mual, namun justru bau yang membuat gairah kelelakian bangkit, membangkitkan si rudal scud untuk bersiap-siap mencari sarang beludru di mana bau itu sangat jelas memancar, selain dari dua buah ketiak yang jauh di atas

Arjuna Bagian 8

Unknown | Minggu, Maret 31, 2013 | 0 komentar

Barulah dari Harun Arjuna mengerti bahwa selingkuh itu berarti melakukan hubungan suami isteri bukan dengan pasangannya, melainkan dengan orang lain. Dan Mbak Sari selingkuh, karena ia butuh melakukan hubungan seks sedangkan Mbah Bejo sudah tidak sanggup lagi melakukan itu.Kini, Arjuna menjadi curiga. Apakah dengan ini Ibunya juga selingkuh? Untuk beberapa lama, Arjuna akhirnya berusaha mengikuti Ibunya kemana-mana, tentunya ketika sudah pulang sekolah. 
Arjuna Bagian 8
Arjuna | Cerita Dewasa


Namun Ibunya tidak pernah keluar rumah kalau tidak perlu. Ibunya hanya pergi mengantar makanan pada ayahnya. Sesekali mampir di tetangga untuk bertamu, namun bertamu kepada Ibu-Ibu yang lain. Kalau begitu, kalau perempuan butuh tapi tak pernah melakukannya bagaimana jadinya?

Harun yang tahu banyak itu malah berkata,“Kalalu kamu ketemu perempuan yang sudah menikah dan dia sudah tidak lama begituan sama suaminya, kamu kasih tahu aku, Jun. biar aku dekati. Perempuan seperti itu pasti gampang dirayu karena nafsunya sudah lama ditahan-tahan. Kamu kenal perempuan jablay seperti itu?”Arjuna buru-buru berbohong dan berkata,“Belum sih. Cuma mau tahu aja, kalau ada perempuan seperti itu harus bagaimana?”“Ya dirayu donk. Pasti mau deh!”“Kamu kok tahu sih? Umur kita kan sama!”“Aku ini kenal sama Zainal. Itu loh, selingkuhannya Mbak Sari. Nah, 

Zainal itu pernah cerita tentang perempuan yang jarang dibelai, atau jablay. Yang penting dideketin, dipuji-puji sama dirayu-rayu deh. Itu katanya.”Arjuna mengangguk-angguk. Ia simpan hal ini dalam hatinya baik-baik. Apakah Ibunya bisa dirayu-rayu sama dia? Berhubung Arjuna masih kecil, ia belum bisa berfikir baik dan buruk. Orang dewasa tentu tahu bahwa merayu Ibu sendiri adalah sesuatu yang absurd dan tidak mungkin dilakukan. Namun, bukanlah salah Arjuna bahwa ia tidak tahu, namun keadaan lingkunganlah yang membuat Arjuna dewasa pada saat yang tidak tepat.


Arjuna:






More>> »


 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Do FoLL'oW - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger